GROBOGAN - Keseriusan Persipur Purwodadi dalam melakoni kerasnya Kompetisi Divisi I PSSI mulai dipertanyakan. Dengan anggaran hanya Rp 1 miliar untuk satu musim kompetisi, banyak pihak khawatir tim besutan pelatih Yusak Sutanto itu akan mogok di tengah jalan.
Terlebih, jadwal kompetisi yang diundur hingga 4 Oktober mendatang, tentu menguras lebih banyak pundi-pundi uang Persipur. Sebagai gambaran, tim-tim kota tetangga Persipur, telah menganggarkan sedikitnya Rp 2 miliar untuk melakoni kompetisi. "Sebaiknya Persipur mulai melakukan efisiensi atau memikirkan sumber pendanaan baru," ujar salah seorang suporter Persipur, Setiadi.
Disebutkan, keputusan untuk terus menggelar latihan dan menjadwalkan serangkaian uji coba memang bagus untuk perkembangan kualitas tim. Hanya saja, imbas finansial klub juga harus dipertimbangkan. "Takutnya kalau Persipur hanya modal nekat. Asal jalan, bisa-bisa bubar di tengah jalan, seperti klub-klub besar sekarang ini," tambahnya.
Persoalan minimnya dukungan dana ini, sebelumnya juga sempat dikhawatirkan Ketua Harian Persipur Nurwibowo. Disebutkan, untuk efisiensi, bisa saja beberapa pemain akan dicoret sebelum kick off Divisi I dimulai. "Segala kemungkinan bisa saja diambil, termasuk memulangkan sejumlah pemain," ujarnya saat itu.
Sementara itu, Sekretaris Persipur Agus Supriyanto mengatakan, komposisi pemain tim berjuluk Laskar Petir yang didominasi pemain lokal, cukup membantu kondisi keuangan tim. "Karena banyak pemain lokal, gaji pemain pun bisa ditekan," ujarnya. Meski persoalan keuangan tim menjadi dilema, Agus menjamin sederet rencana persiapan Persipur tak akan berubah. Termasuk laga uji coba segi tiga dengan Persiwom Teluk Wondama Papua dan klub lokal Ponorogo di Ponorogo, Jawa Timur, Minggu mendatang. "Persiapan tim tetap jalan terus, untuk urusan keuangan, biar manajemen yang mengaturnya," tegasnya. (ans/aji)
Terlebih, jadwal kompetisi yang diundur hingga 4 Oktober mendatang, tentu menguras lebih banyak pundi-pundi uang Persipur. Sebagai gambaran, tim-tim kota tetangga Persipur, telah menganggarkan sedikitnya Rp 2 miliar untuk melakoni kompetisi. "Sebaiknya Persipur mulai melakukan efisiensi atau memikirkan sumber pendanaan baru," ujar salah seorang suporter Persipur, Setiadi.
Disebutkan, keputusan untuk terus menggelar latihan dan menjadwalkan serangkaian uji coba memang bagus untuk perkembangan kualitas tim. Hanya saja, imbas finansial klub juga harus dipertimbangkan. "Takutnya kalau Persipur hanya modal nekat. Asal jalan, bisa-bisa bubar di tengah jalan, seperti klub-klub besar sekarang ini," tambahnya.
Persoalan minimnya dukungan dana ini, sebelumnya juga sempat dikhawatirkan Ketua Harian Persipur Nurwibowo. Disebutkan, untuk efisiensi, bisa saja beberapa pemain akan dicoret sebelum kick off Divisi I dimulai. "Segala kemungkinan bisa saja diambil, termasuk memulangkan sejumlah pemain," ujarnya saat itu.
Sementara itu, Sekretaris Persipur Agus Supriyanto mengatakan, komposisi pemain tim berjuluk Laskar Petir yang didominasi pemain lokal, cukup membantu kondisi keuangan tim. "Karena banyak pemain lokal, gaji pemain pun bisa ditekan," ujarnya. Meski persoalan keuangan tim menjadi dilema, Agus menjamin sederet rencana persiapan Persipur tak akan berubah. Termasuk laga uji coba segi tiga dengan Persiwom Teluk Wondama Papua dan klub lokal Ponorogo di Ponorogo, Jawa Timur, Minggu mendatang. "Persiapan tim tetap jalan terus, untuk urusan keuangan, biar manajemen yang mengaturnya," tegasnya. (ans/aji)

0 comments:
Post a Comment